Search

Kilas Balik Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 (Video + Picture)

0
Proklamasi  Kemerdekaan, yang kita peringati setiap tanggal 17 Agustus, adalah sebuah peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia . Proklamasi, telah mengubah  perjalanan sejarah, membangkitkan rakyat dalam semangat kebebasan. Merdeka dari segala bentuk penjajahan.

Pembacaan naskah Proklamasi oleh Ir Soekarno didampingi M Hatta di
 Pegangsaan Timur Jakarta
Pembacaan naskah Proklamasi oleh Ir Soekarno didampingi M Hatta di Pegangsaan Timur Jakarta
Bagaimanakah sesungguhnya, peristiwa yang terjadi 61 tahun yang lalu itu. Mari kita buka kembali catatan sejarah sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Perdebatan

Proklamasi, ternyata didahului oleh perdebatan hebat antara golongan pemuda dengan golongan tua. Baik golongan tua maupun golongan muda, sesungguhnya sama-sama menginginkan secepatnya dilakukan Proklamasi Kemerdekaan dalam suasana kekosongan kekuasaan dari tangan pemerintah Jepang. Hanya saja, mengenai cara melaksanakan proklamasi  itu terdapat perbedaan pendapat. Golongan tua, sesuai dengan perhitungan politiknya, berpendapat bahwa Indonesia dapat merdeka tanpa pertumpahan darah, jika tetap bekerjasama dengan Jepang.

Naskah Proklamasi Tulisan Tangan Asli (Terlihat ada Coretan 
Koreksi)
Naskah Proklamasi Tulisan Tangan Asli (Terlihat ada Coretan Koreksi)

Karena itu, untuk memproklamasikan kemerdekaan, diperlukan suatu revolusi yang terorganisir. Soekarno dan Hatta, dua tokoh golongan tua, bermaksud membicarakan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dengan cara itu, pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan tidak menyimpang dari ketentuan pemerintah Jepang. Sikap inilah yang tidak disetujui oleh golongan pemuda. Mereka menganggap, bahwa PPKI adalah badan buatan Jepang. Sebaliknya, golongan pemuda menghendaki terlaksananya Proklamasi Kemerdekaan itu, dengan kekuatan sendiri. Lepas sama  sekali  dari campur tangan pemerintah Jepang. Perbedaan pendapat ini, mengakibatkan penekanan-penekanan golongan pemuda kepada golongan  tua  yang  mendorong  mereka  melakukan “aksi penculikan” terhadap diri Soekarno-Hatta (lihat  Marwati Djoened Poesponegoro, ed. 1984:77-81)

Naskah Proklamasi Yang Sudah Diketik Ulang Oleh Sajuti Melik
Naskah Proklamasi Yang Sudah Diketik Ulang Oleh Sajuti Melik

Tanggal 15 Agustus 1945, kira-kira pukul 22.00, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, tempat  kediaman Bung Karno, berlangsung  perdebatan   serius antara sekelompok pemuda dengan Bung Karno mengenai Proklamasi Kemerdekaan sebagaimana dilukiskan Lasmidjah Hardi (1984:58); Ahmad Soebardjo (1978:85-87) sebagai berikut:
” Sekarang  Bung, sekarang! malam ini  juga  kita kobarkan revolusi !” kata Chaerul Saleh dengan meyakinkan  Bung Karno bahwa ribuan  pasukan bersenjata sudah siap mengepung kota dengan maksud mengusir tentara Jepang. ” Kita  harus segera merebut  kekuasaan !” tukas Sukarni berapi-api. ” Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami !” seru mereka bersahutan. Wikana malah berani mengancam Soekarno dengan pernyataan; ” Jika Bung Karno  tidak mengeluarkan pengumuman pada malam  ini  juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari .”
Mendengar kata-kata ancaman seperti itu, Soekarno naik darah dan berdiri menuju Wikana sambil  berkata:  ” Ini batang leherku, seretlah saya ke  pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari !”. Hatta kemudian memperingatkan Wikana; “… Jepang adalah masa silam. Kita sekarang harus  menghadapi Belanda yang akan berusaha untuk kembali menjadi tuan di negeri kita ini. Jika saudara tidak setuju dengan  apa yang telah saya katakan, dan mengira bahwa saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan kemerdekaan, mengapa saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan  itu sendiri ? Mengapa meminta Soekarno untuk  melakukan hal itu ?”

Upacara Pengibaran Bendera Pusaka Merah Putih Pertama Kalinya
Upacara Pengibaran Bendera Pusaka Merah Putih Pertama Kalinya

Namun, para pemuda terus mendesak; ” apakah kita harus menunggu hingga kemerdekaan itu diberikan  kepada kita sebagai hadiah, walaupun Jepang sendiri  telah menyerah dan telah  takluk  dalam ‘Perang Sucinya ‘!”. ” Mengapa bukan rakyat itu sendiri yang memprokla­masikan kemerdekaannya ? Mengapa bukan kita yang menyata­kan kemerdekaan kita sendiri, sebagai suatu bangsa ?”. Dengan lirih, setelah amarahnya reda, Soekarno berkata; “… kekuatan yang segelintir ini tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan  kesiapan total tentara  Jepang! Coba, apa yang  bisa  kau perlihatkan kepada saya ?  Mana bukti kekuatan yang diperhitungkan itu ? Apa tindakan bagian keamananmu untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak ? Bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan setelah  diproklamasikan ? Kita tidak akan mendapat bantuan dari Jepang  atau Sekutu. Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di atas kekuatan sendiri “. Demikian jawab Bung Karno dengan tenang.
Para pemuda, tetap menuntut agar Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun, kedua tokoh itu pun, tetap pada pendiriannya semula. Setelah berulangkali didesak oleh para pemuda, Bung Karno menjawab bahwa ia tidak  bisa memutuskannya sendiri, ia harus berunding dengan para tokoh lainnya. Utusan pemuda mempersilahkan Bung Karno untuk berunding. Para tokoh yang hadir pada  waktu itu antara lain, Mohammad Hatta, Soebardjo, Iwa Kusumasomantri,  Djojopranoto, dan Sudiro. Tidak lama kemudian, Hatta menyampaikan keputusan, bahwa  usul para  pemuda tidak dapat diterima dengan alasan kurang perhitungan serta kemungkinan  timbulnya  banyak korban jiwa dan harta. Mendengar penjelasan Hatta, para pemuda  nampak tidak puas. Mereka mengambil  kesimpulan yang  menyimpang; menculik Bung Karno dan Bung Hatta dengan maksud menyingkirkan  kedua tokoh itu dari pengaruh Jepang.

Pukul 04.00 dinihari, tanggal 16 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta oleh sekelompok pemuda dibawa ke Rengasdengklok. Aksi “penculikan” itu sangat mengecewakan Bung Karno, sebagaimana dikemukakan Lasmidjah Hardi (1984:60). Bung Karno marah dan  kecewa, terutama  karena para pemuda tidak mau mendengarkan pertimbangannya yang sehat. Mereka menganggap perbuatannya itu sebagai tindakan patriotik. Namun, melihat keadaan dan situasi yang panas, Bung Karno tidak mempunyai pilihan lain, kecuali mengikuti kehendak para pemuda untuk dibawa ke tempat yang  mereka tentukan. Fatmawati istrinya, dan Guntur yang pada waktu itu belum berumur satu tahun, ia ikut sertakan.
Rengasdengklok  kota kecil dekat Karawang  dipilih oleh para pemuda untuk mengamankan Soekarno-Hatta dengan perhitungan militer; antara anggota PETA (Pembela  Tanah Air) Daidan Purwakarta dengan Daidan Jakarta telah terjalin hubungan erat sejak mereka mengadakan latihan bersama-sama. Di samping itu, Rengasdengklok letaknya terpencil sekitar 15  km. dari Kedunggede Karawang. Dengan demikian, deteksi dengan mudah dilakukan terhadap setiap gerakan tentara Jepang yang mendekati Rengasdengklok, baik yang datang dari arah Jakarta maupun dari arah Bandung atau Jawa Tengah.
Sehari penuh, Soekarno dan Hatta berada di Rengasdengklok. Maksud para pemuda untuk menekan mereka, supaya segera melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan terlepas dari segala kaitan dengan Jepang, rupa-rupanya tidak membuahkan hasil. Agaknya keduanya memiliki wibawa yang cukup besar. Para pemuda yang membawanya ke Rengasdengklok, segan untuk melakukan penekanan terhadap keduanya. Sukarni dan kawan-kawannya, hanya dapat mendesak Soekarno-Hatta untuk menyatakan proklamasi secepatnya seperti yang telah direncanakan oleh para pemuda di Jakarta . Akan tetapi, Soekarno-Hatta tidak  mau didesak begitu saja. Keduanya, tetap berpegang teguh pada perhitungan dan  rencana mereka sendiri. Di sebuah  pondok  bambu berbentuk panggung  di tengah persawahan Rengasdengklok, siang itu terjadi perdebatan panas; ” Revolusi berada di tangan kami sekarang dan kami memerintahkan Bung, kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, lalu …”. ” Lalu apa ?” teriak Bung Karno sambil beranjak dari kursinya, dengan kemarahan yang menyala-nyala. Semua terkejut, tidak seorang pun yang bergerak atau berbicara.
Waktu suasana tenang kembali. Setelah Bung Karno duduk. Dengan suara rendah ia mulai berbicara; ” Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang  tepat. Di  Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan  ini untuk dijalankan tanggal 17 “. ” Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa  tidak sekarang saja, atau tanggal 16 ?” tanya Sukarni. ” Saya seorang yang percaya pada mistik”. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang  berada  dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua  berpuasa, ini berarti saat yang paling suci  bagi kita. tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu  Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat  suci. Al-Qur’an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu  kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia “. Demikianlah antara lain dialog antara Bung Karno dengan para pemuda di Rengasdengklok sebagaimana ditulis Lasmidjah Hardi (1984:61).
Sementara itu, di Jakarta, antara Mr. Ahmad Soebardjo dari golongan tua dengan Wikana dari golongan muda membicarakan kemerdekaan yang   harus dilaksanakan  di Jakarta . Laksamana Tadashi Maeda, bersedia untuk menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya. Berdasarkan kesepakatan itu, Jusuf Kunto dari pihak pemuda, hari itu juga mengantar Ahmad Soebardjo bersama sekretaris pribadinya, Sudiro, ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Hatta. Rombongan penjemput  tiba di Rengasdengklok sekitar pukul 17.00. Ahmad Soebardjo memberikan jaminan, bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00. Dengan jaminan itu, komandan kompi PETA setempat, Cudanco Soebeno, bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta kembali  ke Jakarta (Marwati Djoened Poesponegoro,  ed. 1984:82-83).

Merumuskan Teks Proklamasi
Rombongan Soekarno-Hatta tiba di Jakarta sekitar pukul 23.00. Langsung menuju rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No.1, setelah lebih dahulu menurunkan Fatmawati dan putranya di rumah Soekarno. Rumah Laksamada  Maeda, dipilih sebagai tempat penyusunan teks Proklamasi karena sikap Maeda sendiri yang memberikan jaminan keselamatan pada Bung Karno  dan tokoh-tokoh lainnya. De Graff yang dikutip Soebardjo (1978:60-61) melukiskan sikap Maeda seperti ini. Sikap dari Maeda tentunya memberi kesan aneh bagi orang-orang Indonesia itu, karena perwira Angkatan Laut ini selalu berhubungan dengan rakyat Indonesia.
Sebagai seorang perwira Angkatan Laut yang telah melihat lebih banyak dunia ini dari rata-rata seorang perwira Angkatan Darat , ia mempunyai pandangan yang lebih tepat tentang keadaan dari orang-orang militer yang agak sempit pikirannya. Ia dapat berbicara dalam beberapa bahasa. Ia adalah pejabat yang bertanggungjawab atas Bukanfu di Batavia;  kantor pembelian Angkatan Laut di Indonesia. Ia tidak khusus membatasi diri hanya pada tugas-tugas militernya saja, tetapi agar dirinya dapat  terbiasa dengan suasana di Jawa , ia membentuk suatu kantor penerangan bagi dirinya di tempat yang sama yang pimpinannya dipercayakan kepada Soebardjo. Melalui  kantor inilah, yang menuntut biaya yang tidak  sedikit  baginya,  ia  mendapatkan pengertian tentang masalah-masalah di Jawa lebih baik dari yang didapatnya dari buletin-buletin resmi Angkatan Darat. Terlebih-lebih ia memberanikan diri untuk mendirikan asrama-asrama bagi nasionalis-nasionalis muda Indonesia . Pemimpin-pemimpin terkemuka, diperbantukan sebagai guru-guru untuk mengajar di asrama itu. Doktrin-doktrin yang agak radikal dipropagandakan. Lebih lincah dari orang-orang militer, ia berhasil mengambil hati dari banyak nasionalis yang tahu pasti bahwa keluhan-keluhan dan keberatan-keberatan mereka selalu bisa dinyatakan kepada Maeda. Sikap Maeda seperti inilah yang memberikan keleluasaan kepada para tokoh nasionalis untuk melakukan aktivitas yang maha penting bagi masa depan bangsanya.
Malam itu, dari rumah Laksamana Maeda, Soekarno dan Hatta ditemani Laksamana Maeda menemui Somobuco (kepala  pemerintahan umum), Mayor Jenderal Nishimura, untuk menjajagi sikapnya mengenai pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. Nishimura mengatakan bahwa karena Jepang sudah  menyatakan menyerah kepada Sekutu,  maka berlaku ketentuan bahwa tentara Jepang tidak diperbolehkan lagi mengubah status quo . Tentara Jepang diharuskan tunduk kepada perintah tentara Sekutu. Berdasarkan garis  kebi ­ jakan itu, Nishimura melarang Soekarno-Hatta  mengadakan rapat PPKI dalam rangka pelaksanaan Proklamasi Kemerde ­ kaan. Melihat kenyataan ini, Soekarno-Hatta sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada gunanya lagi untuk membicara­kan soal kemerdekaan Indonesia dengan Jepang. Mereka hanya  berharap agar pihak Jepang  tidak menghalang-ha ­ langi pelaksanaan  proklamasi kemerdekaan oleh rakyat Indonesia sendiri (Hatta, 1970:54-55).
Presiden RI Pertama Soekarno Berpidato di Depan Ribuan Rakyat 
Indonesia
Presiden RI Pertama Soekarno Berpidato di Depan Ribuan Rakyat Indonesia

Setelah pertemuan itu, Soekarno dan Hatta  kembali ke rumah Laksamana Maeda. Di ruang makan rumah Laksamana Maeda itu dirumuskan teks proklamasi kemerdekaan. Maeda, sebagai tuan rumah, mengundurkan diri ke kamar tidurnya di  lantai dua ketika peristiwa bersejarah itu berlangsung. Miyoshi, orang kepercayaan Nishimura, bersama Sukarni, Sudiro, dan B.M. Diah menyaksikan Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo membahas rumusan teks Proklamasi. Sedangkan  tokoh-tokoh lainnya,  baik  dari golongan tua maupun  dari  golongan pemuda, menunggu di serambi muka.
Menurut Soebardjo (1978:109) di ruang makan rumah Laksamana Maeda menjelang tengah malam,  rumusan  teks Proklamasi yang akan dibacakan esok harinya disusun. Soekarno menuliskan  konsep proklamasi pada secarik kertas. Hatta dan Ahmad Soebardjo menyumbangkan pikirannya secara lisan. Kalimat pertama dari teks Proklamasi merupakan saran Ahmad Soebardjo yang diambil dari rumusan   Dokuritsu Junbi Cosakai , sedangkan kalimat terakhir merupakan sumbangan pikiran Mohammad Hatta. Hatta menganggap kalimat pertama hanyalah merupakan pernyataan dari kemauan bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri, menurut pendapatnya perlu ditambahkan pernyataan mengenai pengalihan   kekuasaan  (transfer of sovereignty). Maka dihasilkanlah rumusan terakhir dari teks proklamasi itu.
Setelah kelompok yang menyendiri di  ruang  makan itu selesai merumuskan teks Proklamasi, kemudian mereka menuju serambi muka untuk menemui hadirin yang berkumpul di  ruangan itu. Saat itu, dinihari menjelang subuh. Jam menunjukkan pukul 04.00, Soekarno mulai membuka pertemuan itu dengan membacakan rumusan teks Proklamasi yang masih merupakan konsep. Soebardjo (1978:109-110) melukiskan suasana ketika itu: “ Sementara teks Proklamasi ditik, kami  menggunakan kesempatan  untuk mengambil makanan dan minuman dari ruang  dapur, yang telah disiapkan sebelumnya  oleh tuan rumah kami yang telah pergi ke kamar tidurnya di tingkat atas. Kami  belum makan apa-apa, ketika meninggalkan Rengasdengklok. Bulan itu adalah bulan suci Ramadhan dan waktu hampir habis untuk makan sahur, makan terakhir sebelum sembahyang subuh. Setelah kami terima kembali teks yang telah  ditik, kami semuanya menuju ke ruang besar di bagian depan rumah. Semua orang berdiri dan tidak ada kursi di dalam ruangan. Saya  bercampur dengan  beberapa anggota Panitia di tengah-tengah ruangan. Sukarni berdiri  di samping  saya. Hatta berdiri mendampingi Sukarno menghadap para hadirin . Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi tanggal 17 Agustus 1945, pada saat Soekarno membuka  pertemuan dini hari itu dengan beberapa  patah kata.
“Keadaan yang mendesak telah memaksa  kita  semua mempercepat pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. Rancangan teks telah  siap  dibacakan  di hadapan saudara-saudara dan saya harapkan benar bahwa saudara-saudara sekalian dapat menyetujuinya sehingga kita dapat berjalan terus dan menyelesaikan pekerjaan kita sebelum fajar menyingsing”. Kepada mereka yang hadir, Soekarno menyarankan agar bersama-sama  menandatangani  naskah proklamasi selaku wakil-wakil bangsa Indonesia . Saran itu diperkuat oleh Mohammad  Hatta dengan mengambil contoh pada “Declaration of Independence ” Amerika Serikat. Usul itu ditentang oleh pihak pemuda yang  tidak  setuju  kalau tokoh-tokoh  golongan tua yang  disebutnya  “budak-budak Jepang” turut menandatangani naskah proklamasi. Sukarni mengusulkan agar penandatangan naskah  proklamasi  itu cukup dua orang saja, yakni Soekarno dan Mohammad  Hatta atas  nama bangsa Indonesia . Usul Sukarni itu  diterima oleh hadirin.

Bung Karno, Selalu Dinantikan rakyat Pidato Kenegaraannya
Bung Karno, Selalu Dinantikan rakyat Pidato Kenegaraannya

Naskah  yang sudah  diketik oleh Sajuti Melik,  segera ditandatangani oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Persoalan  timbul mengenai  bagaimana Proklamasi itu harus diumumkan  kepada  rakyat  di seluruh Indonesia ,  dan juga ke seluruh pelosok dunia. Di mana dan dengan cara bagaimana hal ini harus diselenggarakan? Menurut  Soebardjo (1978:113), Sukarni kemudian memberitahukan bahwa rakyat Jakarta dan sekitarnya, telah diserukan untuk datang berbondong-bondong  ke lapangan IKADA pada  tanggal 17 Agustus  untuk mendengarkan Proklamasi  Kemerdekaan. Akan tetapi  Soekarno  menolak saran Sukarni. ” Tidak ,” kata Soekarno, ” lebih  baik dilakukan  di tempat kediaman saya di Pegangsaan  Timur. Pekarangan  di  depan  rumah cukup luas untuk ratusan orang. Untuk apa kita harus memancing-mancing  insiden ? Lapangan  IKADA adalah lapangan umum. Suatu rapat umum, tanpa diatur sebelumnya dengan penguasa-penguasa militer, mungkin akan menimbulkan salah faham. Suatu bentrokan  kekerasan antara rakyat dan penguasa militer yang akan membubarkan rapat umum tersebut, mungkin akan  terjadi. Karena itu, saya minta saudara sekalian untuk hadir di Pegangsaan  Timur 56 sekitar pukul 10.00 pagi .” Demikianlah keputusan terakhir dari pertemuan itu.

Detik-Detik Proklamasi
Hari  Jumat di bulan Ramadhan, pukul  05.00 pagi, fajar 17 Agustus 1945 memancar di ufuk timur. Embun pagi masih menggelantung di tepian daun. Para pemimpin bangsa dan para tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda, dengan diliputi kebanggaan setelah merumuskan teks Proklamasi hingga dinihari. Mereka, telah sepakat untuk memproklamasikan  kemerdekaan bangsa Indonesia hari  itu di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 10.00 pagi. Bung Hatta sempat berpesan kepada para  pemuda  yang bekerja pada pers dan  kantor-kantor berita, untuk memperbanyak naskah proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh dunia (Hatta, 1970:53).
Bung
 Karno Saat Kunjungan Kerja
Bung Karno Saat Kunjungan Kerja

Menjelang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan, suasana di Jalan Pegangsaan Timur 56 cukup sibuk. Wakil Walikota, Soewirjo, memerintahkan kepada  Mr. Wilopo untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan  seperti mikrofon dan beberapa pengeras suara. Sedangkan Sudiro memerintahkan kepada S. Suhud untuk mempersiapkan  satu tiang bendera. Karena situasi yang tegang, Suhud tidak ingat bahwa di depan rumah Soekarno itu, masih ada dua tiang bendera dari besi yang tidak digunakan. Malahan ia mencari sebatang bambu yang berada di  belakang rumah. Bambu  itu dibersihkan dan diberi  tali. Lalu ditanam beberapa langkah saja dari teras rumah. Bendera  yang dijahit  dengan  tangan oleh Nyonya  Fatmawati  Soekarno sudah disiapkan. Bentuk dan ukuran bendera itu tidak  standar, karena kainnya berukuran tidak  sempurna. Memang, kain itu awalnya tidak disiapkan untuk bendera.
Sementara  itu, rakyat yang telah mengetahui  akan dilaksanakan Proklamasi Kemerdekaan telah berkumpul. Rumah Soekarno telah dipadati oleh sejumlah massa pemuda dan rakyat yang berbaris teratur. Beberapa orang  tampak gelisah, khawatir akan adanya pengacauan dari pihak Jepang. Matahari semakin tinggi, Proklamasi belum juga dimulai. Waktu itu Soekarno terserang  sakit,  malamnya panas dingin terus  menerus  dan baru  tidur  setelah selesai merumuskan teks Proklamasi. Para undangan telah banyak  berdatangan, rakyat yang telah menunggu  sejak pagi, mulai tidak sabar lagi. Mereka  yang diliputi suasana tegang berkeinginan keras agar Proklamasi segera dilakukan. Para pemuda yang tidak sabar, mulai mendesak Bung Karno untuk segera membacakan  teks Proklamasi. Namun, Bung Karno tidak mau membacakan teks Proklamasi tanpa kehadiran Mohammad Hatta. Lima menit sebelum acara dimulai, Mohammad Hatta datang dengan pakaian putih-putih  dan langsung menuju kamar Soekarno. Sambil menyambut kedatangan Mohammad Hatta, Bung Karno bangkit dari tempat tidurnya, lalu berpakaian.  Ia  juga mengenakan stelan putih-putih. Kemudian keduanya menuju tempat upacara.

Marwati Djoened Poesponegoro (1984:92-94) melukiskan upacara pembacaan teks Proklamasi itu. Upacara itu berlangsung sederhana saja. Tanpa protokol. Latief Hendraningrat, salah  seorang  anggota  PETA, segera memberi aba-aba kepada seluruh barisan pemuda yang telah menunggu  sejak pagi untuk berdiri. Serentak semua berdiri tegak dengan sikap sempurna. Latief kemudian mempersilahkan Soekarno dan Mohammad Hatta  maju beberapa  langkah mendekati mikrofon. Dengan suara mantap dan jelas, Soekarno mengucapkan pidato pendahuluan singkat  sebelum membacakan teks proklamasi.
“Saudara-saudara sekalian ! saya telah minta saudara hadir di sini, untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia  telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya. Tetapi jiwa  kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti. Di dalam jaman  Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada  mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri. Tetap kita percaya pada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil  nasib bangsa dan nasib tanah air  kita  di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang  berani mengambil nasib dalam tangan  sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia , permusyawaratan itu seia-sekata  berpendapat,  bahwa sekaranglah  datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.
Saudara-saudara! Dengan ini kami menyatakan kebulatan  tekad itu. Dengarkanlah Proklamasi kami: PROKLAMASI; Kami  bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia . Hal-hal  yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta , 17 Agustus 1945. Atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta.
Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi  yang mengikat tanah air kita dan  bangsa  kita! Mulai saat  ini kita menyusun  Negara  kita!  Negara Merdeka.  Negara Republik Indonesia  merdeka, kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu”. (Koesnodiprojo, 1951).
Acara, dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih. Soekarno dan Hatta maju beberapa langkah menuruni anak tangga terakhir dari serambi muka, lebih kurang dua meter di depan tiang. Ketika S. K. Trimurti diminta maju untuk mengibarkan bendera, dia menolak: ” lebih baik seorang prajurit ,” katanya. Tanpa ada yang menyuruh, Latief Hendraningrat yang berseragam PETA berwarna hijau dekil maju ke dekat tiang bendera. S. Suhud  mengambil bendera dari  atas baki  yang  telah disediakan   dan mengikatnya pada tali dibantu oleh Latief Hendraningrat.
Bendera dinaikkan perlahan-lahan. Tanpa ada yang memimpin, para hadirin dengan spontan menyanyikan  lagu Indonesia Raya. Bendera dikerek dengan  lambat sekali, untuk menyesuaikan dengan irama lagu Indonesia Raya yang cukup panjang. Seusai pengibaran  bendera, dilanjutkan dengan pidato sambutan dari Walikota Soewirjo dan dr. Muwardi.

Founding Father, Bung Karno, Bung Hatta Dan Bung Syahrir
Founding Father, Bung Karno, Bung Hatta Dan Bung Syahrir

Setelah upacara pembacaan Proklamasi  Kemerdekaan, Lasmidjah Hardi (1984:77) mengemukakan bahwa ada sepasukan  barisan pelopor yang berjumlah kurang  lebih 100 orang di bawah pimpinan S. Brata, memasuki  halaman rumah Soekarno. Mereka datang terlambat. Dengan suara lantang  penuh kecewa S. Brata meminta agar Bung  Karno membacakan  Proklamasi sekali lagi.  Mendengar teriakan itu Bung  Karno tidak  sampai  hati,  ia  keluar  dari kamarnya. Di depan corong mikrofon ia menjelaskan bahwa Proklamasi hanya diucapkan satu kali dan berlaku untuk selama-lamanya. Mendengar  keterangan itu  Brata belum merasa puas, ia meminta agar Bung Karno memberi  amanat singkat. Kali ini permintaannya dipenuhi. Selesai  upacara itu rakyat masih belum mau beranjak, beberapa anggota Barisan Pelopor masih duduk-duduk bergerombol di depan kamar Bung Karno.
Tidak lama setelah Bung Hatta pulang, menurut Lasmidjah Hardi (1984:79) datang tiga orang pembesar Jepang. Mereka diperintahkan  menunggu di ruang belakang, tanpa  diberi kursi. Sudiro sudah dapat menerka, untuk apa mereka datang. Para anggota Barisan Pelopor mulai mengepungnya. Bung Karno sudah memakai piyama ketika Sudiro masuk, sehingga  terpaksa  berpakaian  lagi. Kemudian terjadi dialog antara utusan Jepang dengan Bung Karno: ” Kami  diutus oleh Gunseikan Kakka, datang kemari untuk melarang Soekarno mengucapkan Proklamasi .” ” Proklamasi sudah saya ucapkan,” jawab Bung  Karno dengan tenang. ” Sudahkah ?” tanya utusan Jepang itu keheranan. ” Ya, sudah !” jawab Bung Karno. Di sekeliling  utusan Jepang itu, mata para  pemuda melotot dan tangan mereka sudah diletakkan di atas golok masing-masing. Melihat kondisi seperti itu, orang-orang Jepang itu pun segera pamit. Sementara  itu, Latief Hendraningrat tercenung memikirkan kelalaiannya. Karena dicekam suasana tegang, ia lupa menelpon Soetarto dari PFN untuk mendokumentasikan peristiwa itu. Untung ada Frans Mendur dari IPPHOS yang plat filmnya tinggal tiga lembar (saat itu belum ada rol film). Sehingga dari seluruh peristiwa bersejarah  itu, dokumentasinya hanya ada  tiga; yakni sewaktu Bung Karno membacakan teks Proklamasi, pada saat pengibaran  bendera,  dan  sebagian  foto hadirin yang menyaksikan peristiwa itu.
Peristiwa  besar  bersejarah yang  telah mengubah jalan sejarah bangsa Indonesia itu berlangsung  hanya satu  jam, dengan penuh kehidmatan. Sekalipun sangat sederhana, namun ia telah membawa perubahan  yang  luar biasa  dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia . “Gema lonceng kemerdekaan”  terdengar  ke seluruh   pelosok Nusantara dan menyebar ke seantero dunia. Para  pemuda, mahasiswa,  serta pegawai-pegawai bangsa Indonesia pada jawatan-jawatan perhubungan yang penting giat bekerja menyiarkan isi proklamasi itu  ke seluruh pelosok negeri. Para wartawan Indonesia yang bekerja pada kantor berita Jepang Domei , sekalipun telah disegel oleh pemerintah  Jepang, mereka berusaha menyebarluaskan gema Proklamasi itu ke seluruh dunia.

Dirgahayu Indonesiaku!
Penulis:
Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum
Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara R.I.
Read more

Foto-Foto Korban Wedus Gembel Merapi, Yang Tewas dan Selamat

0
Bencana letusan gunung Merapi tidaklah datang tiba-tiba melainkan sedah bisa di prediksi beberapa waktu sebelumnya berdasarkan pengamatan aktivitas vulkanologi yang dilakukan para ahli, namun kenapa masih banyak korban yang berjatuhan? Salah siapa? Sepertinya seringnya bencana yang melanda negeri ini tidak cukum membuat kita lebih banyak mengambil pelajaran dan hikmah dari semuanya agar kita jadikan pedoman dimasa datang lebih arif dan cerdas dalam menangani serta menghadapi bencana.

Korban yang berhasil selamat dari terjangan awan panas wedus 
gembel
Korban yang berhasil selamat dari terjangan awan panas wedus gembel


Seorang nenek yang tak sadarkan diri dan diselamatkan ke rumah 
sakit
Seorang nenek yang tak sadarkan diri dan diselamatkan ke rumah sakit

Sistem manajemen penanganan bencana kita  masih belum bisa diandalkan, selain hanya berkutat mengurusi teknisnya saja, antisipasi penanganan bencana mestinya juga menyentuh pola pikir dan budaya masyarakat setempat yang seringkali justru malah kontraproduktif terhadap penanganan dan penyelamatan masayarakat agar tidak menjadi korban.

Korban Merapi yang berhasil selamat
Seorang korban wanita di evakuasi oleh relawan

Sebanyak 64 warga Dusun Bronggan, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, DIY, menjadi korban tewas awan panas Gunung Merapi. Lokasi mereka berada di dalam radius bahaya 20 kilometer. Lokasi dusun ini sekitar 16 sampai 18 kilometer. Mengapa warga yang berasal dari satu kampung itu bisa tewas tersapu ‘wedhus gembel’? Adalah Sri Sucirathasari (18), salah seorang korban yang selamat, memberikan pengakuan kepada media asing Associated Press, 5 November 2010.


Korban yang berhasil selamat dari terjangan awan panas wedus 
gembel
Korban yang berhasil selamat dari terjangan awan panas wedus gembel

Kejadian pada Jumat 5 November 2010 dini hari itu hampir bersamaan dengan dikeluarkannya imbauan perluasan zona bahaya Merapi dari 15 menjadi 20 kilometer. Tetapi, imbauan zona bahaya yang diperluas itu tidak sampai ke telinga keluarga Sri Sucirathasari.  Sri mengaku, pada Kamis jelang tengah malam itu tidak ada imbauan apapun yang diterima keluarganya. Mereka tidak diminta untuk pergi atau mengungsi.
Photobucket
Seorang pengungsi yang selamat sedang mengalami masalah pernapasan karena abu vulkanik dibantu relawan
Mereka justru terbangun dalam gelap saat mendengar kuat gemuruh Gunung Merapi. Panik. Semua berupaya menyelamatkan diri dengan menggunakan sepeda motor. Kecepatan awan panas disebut-sebut mencapai sekitar 100 kilometer perjam. Sri tidak ikut dalam pelarian diri menggunakan sepeda motor. Mereka yang berada di atas motor adalah ibu kandungnya, ayah, dan adiknya Priska (12). Ketiganya naik motor bersama dan meninggalkan Sri lebih awal.

Foto-Foto Korban Wedhus Gembel Merapi Yang selamat
Evakuasi para penduduk yang masih tersisa

Malangnya, lampu motor yang ditumpangi ketiganya justru tertutup abu vulkanik yang menempel. Suasana menjadi gelap. Motor yang dikendarai sang ayah justru melaju ke arah yang keliru. Bukan menjauh dari wedhus gembel tapi justru sebaliknya. Suara teriakan sang ibu masih terngiang di telinga Sri. Saat mendengar teriakan itu, Sri menuju sumber suara. Sri keluar rumah menuju ke arah teriakan suara dan meninggalkan kakaknya di dalam. Sang kakak tewas di dalam rumah yang terbakar dilalap api. Sedangkan Sri tidak disebutkan seberapa parah luka yang dideritanya.

Foto-Foto Korban Wedhus Gembel Merapi Yang selamat
Para pengungsi dievakuasi
“Tidak ada tanda-tanda untuk mengevakuasi kami,” kata Sri yang pandangannya kosong menatap Priska yang mengalami luka bakar serius di leher dan wajah. Ibu mereka masih hilang. Sang ayah yang dirawat di bangsal lain mengalami luka bakar parah. Associated Press menyebut total korban tewas 122 orang. Media-media di Indonesia menulis 109 total korban tewas.

Korban Merapi Tewas
Korban yang meninggal akibat wedus gembel

Korban Merapi Tewas
Korban tewas kerkena awan panas karena tak sempat menyelamatkan diri

Foto-Foto Korban Wedhus Gembel Merapi Yang selamat
Situasi desa setelah terkena awan panas

Photobucket
Sebuah perkuburan yang permukaannya ditutupi abu vulkanik

Korban-korban meninggal yang berhasil dievakuasi dari lokasi
Korban-korban meninggal yang berhasil dievakuasi dari lokasi
Apakah ini kesalahan pejabat berwenang? “Saya tidak tahu harus berkata apa,” jawab Sri. “Saya harus marah kepada siapa? Hanya sedih dan sakit hati.”
Dirangkum
ruanghati.com dari AP, Vivanews, Reuters, AFP, EPA, Getty Images

Read more

Kesedihan Yang Tersisa Dari Tragedi Chernobyl (Picture)

0

Tragedi Chernobyl sudah 24 tahun berlalu, namun kesedihan dan duka yang tersisa bagi korban masih dirasakan hingga kini bahkan sampai akhir hayatnya. Tragedi Chernobyl berawal dari ledakan reaktor ke-empat yang ada di Chernobyl. Ledakan terjadi saat dilakukan sebuah eksperimen yang sampai saat ini tidak ada penjelasan ekperimen apa yang sedang dilakukan saat itu. Radiasi akibat ledakan tersebut mengkontaminasi wilayah yang sangat luas di Ukraina, Belarus dan Rusia.

Chernobyl

Alhasil, ledakan reaktor nuklir di Chernobyl, Ukraina pada tahun 26 April 1986, telah mengakibatkan Chernobyl menjadi sebuah kota mati, berbahaya untuk dimasuki, terkait radiasi yang masih sangat aktif walau telah 21 tahun lewat .Kecelakaan ini merupakan salah satu bencana nuklir yang terdahsyat sampai saat ini. Disusul ledakan dan kebakaran serta gelombang radiasi dari skala paling berbahaya yang jauh melewati batas aman sampai paling lemah, menyebar hampir menuju ke seluruh Eropa.

Chernobyl

Tidak ada kepastian berapa sebenarnya jumlah korban akibat tragedi Chernobyl. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut angka 9.000 orang yang menjadi korban akibat radiasi. Organisasi lingkungan hidup Greenpeace memperkirakan jumlah korban bisa mencapai 93.000 orang.

Chernobyl

Ratusan dari ribuan orang berhasil dievakuasi. PBB menyatakan, sekitar 7 juta orang masih hidup di wilayah berbahaya karena memiliki tingkat radiasi di luar ambang batas aman. Hasil yang didapat sampai saat ini adalah kanker ganas pada anak-anak yang baru lahir, kematian dalam jangka waktu yang diprediksi bagi para pekerja saat membereskan reruntuhan ledakan di kota itu, mutasi genetik luar biasa turun temurun yang menyebar di hampir sebagian dari wilayah Eropa.

Chernobyl
Chernobyl
Tragedi chernobyl
Korban Ledakan Nuklir chernobyl

Teknologi, sebuah hal yang bisa memberikan manfaat besar bagi manusia dan apapun, namun bisa menjadi sebuah musibah besar pula bila kita tidak bisa mengatur dan mengendalikannya. Teknologi bisa untuk kedamaian, namun teknologi bisa menjadi sumber petaka, semoga damai di bumi ini bisa selalu terjaga, semoga para pemimpin yng memegang kendali kekuasaan bisa mengedepankan hati nuraninya dari pada nafsu kekuasaan, Peace!!
Read more

Mengintip Bos Facebook Mark Zuckerberg Kencan Dengan Gadis Cina (Full Picture)

0

Bos Facebook yang tertangkap kamera Paparazzi sedang berduaan 
dengan kekasihnya
Bos Facebook yang tertangkap kamera Paparazzi sedang berduaan dengan kekasihnya

Belum lama ini salah satu tabloid gosip terkenal Gawker memuat foto-foto kencan pendiri sekaligus CEO Facebook Mark Zuckerberg sedang asyik bermesraan dengan seorang gadis berdarah Cina yang belakangan diketahui sebagai kekasihnya bernama Priscilla Chan. Hal tersebut bahkan ada yang mengkaitkan dengan rencana Facebook untuk lebih intensif menggarap pasar Cina yang sangat besar.
Mark Zuckerberg,Mark Zuckerberg dan Priscilla Chan

Berbagai forum dan blog kelas duniapun ramai memberitakan foto-foto tersebut, ada yang berpendapat positif namun tak sedikit nada miring menyikapi hal tersebut. Zuckerberg sendiri pernah mengatakan bahwa Chan sosok seorang wanita yang lembut, dan dia menyukainya. Sebenarnya hubungan keduanya bukanlah baru bahkan antara mereka sempat putus hubungan namun akhirnya bersambung kembali. Seperti dikutip ruanghati.com dari sebuah Forum lokal di Cina BBS menceritakan saat ini mereka berencana segera menikah, dan dalam waktu dekat keduanya bakal melakukan perjalanan wisata ke Cina. Hal tersebut diperkuat sumber dari kontributor Huffington Post  Jose Antonio yang pernah menulis biografi pendiri Facebook tersebut


Mark Zuckerberg,Mark Zuckerberg dan Priscilla Chan

Kedua nya bertemu di Harvard University, Chan sendiri merupakan mahasiswi kedokteran tersebut ternyata sangat dekat dengan bos jejaring sosial nomer satu di dunia tersebut termasuk pada keluarga dekat Zuckerberg. Kita nantikan saja perkembangan selanjutnya.

Mark Zuckerberg pendiri Facebook tertangkap kamera Paparazzi sedang
 mesra dengan seorang gadis Cina bernama Priscilla Chan
Mark Zuckerberg pendiri Facebook tertangkap kamera Paparazzi sedang mesra dengan seorang gadis Cina bernama Priscilla Chan

Read more

Hah! Ternyata Rumah Mark Zuckerberg Bos Facebook Masih Ngontrak

0

Lihatlah perabot rumah makan dan dapur rumah kontrakan Mark, 
sederhana untuk ukuran Milyader sepertinya
Lihatlah perabot rumah makan dan dapur rumah kontrakan Mark, sederhana untuk ukuran Milyader sepertinya

Dalam acara Oprah Winfrey balum lama ini dimana Mark Zuckerberg hadir sebagai tamu yang di kupas kehidupannya oleh Oprah terungkap beberapa hal yang unik dan menarik dari diri Mark salah satunya ternyata rumah yang didiaminnya saat ini dan yang akan nantinya digunakannya bila sudah berumah tangga dengan kekasihnya Nona Chan ternyata masih berstatus rumah kontrakan.
Bila dilihat dari bentuk rumahpun rumah kontrakan Mark tergolong sederhana untuk ukuran seorang milyader tingkat dunia seperti dirinya, seperti yang dikutip ruanghati.com dari LifeJournal menyebutkan kekayaan bos Facebook ini masih lebih besar dari bos Apple Inc Steve Jobs, dimana Mark berada diperingkat 35 orang terkaya di Amerika. Luar biasa, pemuda yang memiliki kemampuan finansial kuat namun mampu menahan diri untuk tidak memamerkan apa yang dia miliki.
Bersama kekasihnya mahasiswi kedokteran Harvard Priscilla chan 
asal Cina
Bersama kekasihnya mahasiswi kedokteran Harvard Priscilla chan asal Cina
Masih dalam show Oprah tersebut, Mark Zuckerberg  berkomitmen untuk membantu sejumlah dana yang diperuntukan bagi sekolah sekolah yang sedang diperbaiki di Amerika, jumlah bantuan yang disumbangkan untuk perbaikan sekolah tersebut mencapai hingga $ 100 juta atau setara dengan Rp 900 Miliar, bayangkan uang sebesar itu kalau mau mark bisa beli rumah mewah di Beverly Hill atau tempat mewah lainnya, namun dirinya lebih memilih tinggal dirumah kontrakan.
Rumah yang didiami Bos Facebook yang milyader ini ternyata masih 
mengontrak
Rumah yang didiami Bos Facebook yang milyader ini ternyata masih mengontrak
Sosok pendiri facebook ini mengingatkan kita akan sebuah pepatah, semakin berisi biji padi semakin merunduk, sosok yang sangat langka dijaman sekarang dimana umumnya derajat orang diukur dari jumlah kekayaan dan gaya hidup yang dimiliki, kita lihat berapa banyak orang memkasakan diri untuk memperoleh gaya hidup mewah saat ini walau harus dilakukan dengan cara hutang atau korupsi bahkan menjual harga diri. Salut untuk bos Facebook yang satu ini
Read more

Kisah Sejati Sepasang Suami Istri Inspirasi, Saling Melengkapi

0
Read more

Transformasi Seorang Waria Yang Ingin Menjadi Wanita Tulen (Picture)

0

Adalah Beila Ming seorang transeksual yang sangat termotivasi untuk menjadi wanita tulen, apapun sudah dilakukannya untuk menyempurnakan keinginannya. Beruntung dia ada di kota Bangkok dimana fasilitas untuk mewujudkan impiannya tersebut tersedia, dengan biaya yang tidak terlalu mahal dan dengan hasil yang bisa lebih optimal.

Proses perubahan seorang waria menjadi wanita 
Ming datang ke rumah sakit dan membaca brosur paket operasi yang ditawarkan

Pergilah Ming ke rumah sakit Yanhee (Yanhee Hospital) yang begitu populer dengan keahlian mempermak dan melakukan ganti kelamin dengan hasil yang nyaris sempurna. Sebenarnya Ming sendiri secara tampilannya sekilas sudah sangat mirip dengan wanita namun, ada beberapa hal yang dianggapnya belum sempurna, seperti kumis dan beberapa organ khas kelelakian yang memang secara kodrat ada didirinya.

Proses perubahan seorang waria menjadi wanita 
Ming merasa perubahan dirinya menjadi wanita belumlah sempurna hingga ia merasa perlu menyempurnakannya

Nah sobat ruanghati.com, akhirnya Ming pun tetap kukuh pada tekadnya untuk menjadi wanita yang sempurna secara penampilan, operasipun berlangsung, walau koceknya terkuras tapi baginya tak menjadi soal yang penting hasil memuaskan. Akhirnyapun sobat ruanghati, Ming secara tampilan kini nyaris sempurna bak wanita tulen yang cantik.

Proses perubahan seorang waria menjadi wanita Konsultasi dengan Dokter ahli

Tapi apakah sesungguhnya yang kita cari dalam hidup ini? hal yang bersifat fisik biasanya tak kekal, karena berjalan waktu akan rusak dan sirna, bekal apa yang akan kekal dan bisa membawa kebahagiaan yang hakiki? Apa pendapat Anda Sobat?

Proses perubahan seorang waria menjadi wanita
Persiapan sebelum operasi dilakukan

Proses perubahan seorang waria menjadi wanita 
Operasipun berlangsung

Proses perubahan seorang waria menjadi wanita 
Operasi hampir selesai

Proses perubahan seorang waria menjadi wanita 
Pasca operasi, tahap pemulihan

Proses perubahan seorang waria menjadi wanita 
Ming pun merasa puas, kini ia merasa bagai seorang dewi yang sempurna

Proses perubahan seorang waria menjadi wanita
Ming pamitan dengan tim medis yang menanganinya
Read more

This is Me

This is Me
Click this PIC to Freena'z Pic
 
Copyright 2009 a Dreamer's Galleries
Design by BloggerThemes